Manusia Pasir di Batang-Batang, Sumenep

[caption id="attachment_4678" align="alignnone" width="614"]P1180611 Ke arah barat pantai Lombang. (Foto: Fahrur Rozi)[/caption]

Kalau kebetulan Anda berada di pantai Lombang, cobalah sesekali berjalan ke arah barat sekitar 3 kilo meter. Sampai di sana, masuklah ke arah selatan. Anda akan melihat rumah-rumah penduduk dengan properti nelayan; sampan, jala, pancing, dsb. Ya, mata pencaharian orang-orang di sana adalah melaut.

[caption id="attachment_4679" align="alignnone" width="614"]P1180610 Salah satu rumah penduduk di Desa Legung Timur. (Foto: Fahrur Rozi)[/caption]

Namun, bukan itu yang unik. Nelayan di banyak tempat sudah ada. Justru yang menarik diperhatikan adalah sekumpulan orang yang duduk-duduk atau tidur-tiduran di atas pasir di depan rumah mereka. Tua-muda berbaur, memperbincangkan berbagai hal, mulai dari urusan rumah tangga hingga soal pemerintahan, semisal pemilihan Kepada Desa.

[caption id="attachment_4675" align="aligncenter" width="448"]antarafoto-1281579601- Manusia pasir. Sumber foto: www.antarafoto.com[/caption]

Ya, merekalah yang orang-orang sebut sebagai "Manusia Pasir". Bagi mereka, pasir merupakan "teman hidup" yang tak bisa dipisahkan. Segala aktivitas kehidupan mereka berada di atas pasir, mulai dari urusan rumah tangga, sosial, bahkan ekonomi. Mereka biasa melakukan aktivitas jual-beli di atas pasir.

Pasir tak hanya berada di emperan, melainkan juga masuk ke tempat tidur di dalam rumah penduduk. Menurut mereka, pasir akan terasa dingin pada musim kemarau dan hangat pada musim penghujan. Mungkin hal inilah yang membuat mereka nyaman berada di atasnya.

Secara administratif, lingkungan mereka masuk dalam dua desa; Dapenda dan Legung Timur, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Namun, meski masuk dua desa, mereka berada dalam satu dusun, yaitu Lebak.

Sampai saat ini, tampaknya belum ada catatan sejarah yang menjelaskan kapan mereka mulai melakukan aktivitas kehidupannya di atas pasir. Yang jelas, tradisi tersebut merupakan warisan nenek moyang mereka yang masih lestari hingga saat ini.

Ada beberapa hal yang menjadi alasan mereka akrab dengan pasir. Salah satunya, pasir diyakini sebagai alat untuk menyembuhkan berbagai penyakit , bahkan untuk ukuran penyakit ganas, semacam stroke. Tak hanya itu, tidur di pasir juga diyakini dapat menangkal serangan ilmu hitam, semisal santet.

Atas keyakinan tersebut, meski belum ada penelitian secara medis, penduduk di sana mengakui bahwa terapi pasir telah banyak menyembuhkan penyakit-penyakit yang mereka derita.

Pasir di Dusun Lebak memiliki tekstur yang sangat halus dan berwana putih gading. Karena itu, orang yang tidur di atasnya merasa nyaman karena tak ada kerikil yang akan mengganggu kenyenyakan tidur mereka.

Menurut D. Zawawi Imron, budayawan Sumenep asli Batang-Batang, kedekatan penduduk dengan pasir tersebut memiliki nilai falsafi. Hal itu merupakan bentuk keintiman mereka dengan muasal dan tempat mereka akan kemabali. Manusia diciptakan dari tanah, dan kelak akan kembali ke dalam tanah.

 

(ditambah dari beberapa sumber)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama